pkbmassafarwadi.com

Welcome to pkbmassafarwadi.com!

Sejarah yang hilang dengan cara Pengambilan buku dan manuskrip kuno masa kolonial Belanda

Berbeda dengan Inggris yang mengambil manuskrip dalam waktu singkat dan melalui penyerbuan militer, Belanda melakukan pengambilan, pengumpulan, dan pengiriman buku serta manuskrip Nusantara secara sistematis, terorganisir, dan berlangsung selama ratusan tahun.

Proses ini bukan hanya soal “mencuri”, tapi juga melibatkan pembelian, penyitaan, peminjaman yang tidak pernah dikembalikan, hingga pembuatan salinan baru.

Berikut penjelasannya secara terperinci:

  1. Latar Belakang dan Tujuan

Belanda (VOC dan Pemerintah Hindia Belanda) memiliki alasan yang lebih kompleks dibanding Inggris:

  • Kepentingan Politik & Administrasi: Mereka butuh memahami hukum adat, struktur kerajaan, dan tata krama lokal agar mudah mengatur masyarakat dan memungut pajak.
  • Kepentingan Ilmu Pengetahuan (Etnologi): Pada abad ke-19, Eropa sedang giat-giatnya mempelajari budaya dunia. Belanda ingin menjadi ahli terbesar tentang “Hindia”.
  • Kontrol Ideologi: Memahami naskah agama dan spiritual agar bisa mengawasi atau mencegah gerakan perlawanan yang berbasis kepercayaan atau kitab kuno.
  1. Metode dan Cara Pengumpulan

Belanda menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan naskah-naskah tersebut:

A. Penjarahan & Penyitaan (Confiscation)

Sama seperti Inggris, saat terjadi perang atau pemberontakan, Belanda sering menyita barang-barang keraton.

  • Contoh: Saat Perang Diponegoro (1825-1830), banyak naskah dari Jawa Tengah dan Yogyakarta yang dirampas.
  • Peristiwa Banjarmasin: Setelah perang melawan Pangeran Antasari, banyak naskah Banjar dan Kutai yang dibawa pergi.
  • Aceh: Saat Perang Aceh (1873-1904), perpustakaan kesultanan dan rumah-rumah ulama banyak dijarah. Banyak naskah Melayu klasik yang kini ada di Belanda berasal dari Aceh.

B. Pembelian dan “Hadiah”

Para pegawai pemerintah, dokter, dan peneliti Belanda sering membeli naskah dari pedagang buku kuno, pemuka agama, atau keluarga bangsawan dengan harga murah.

  • Seringkali naskah tersebut dianggap “hadiah” dari penguasa lokal kepada pejabat Belanda sebagai tanda tunduk atau hubungan baik, namun sebenarnya tidak ada tawar menawar.

C. Peminjaman yang Tidak Dikembalikan

Para sarjana Belanda sering meminjam naskah dari keraton atau ulama untuk “dipelajari” atau “disalin”. Namun, banyak dari naskah asli tersebut yang tidak pernah kembali dan justru dikirim ke Belanda.

D. Pembuatan Salinan (Copies)

Karena naskah asli kadang ditahan oleh pemiliknya, Belanda menyuruh juru tulis lokal untuk menyalin isi naskah tersebut kata per kata. Salinan inilah yang kemudian dibawa ke Belanda, namun kualitas dan keasliannya seringkali sama berharganya dengan aslinya sekarang.

  1. Tokoh-Tokoh Kunci Pengumpul Naskah

Banyak nama Belanda yang dikenal sebagai “penyelamat” sekaligus “pembawa” naskah nusantara:

  • Hendrik Kern & P.J. Veth: Ahli bahasa dan budaya yang menginisiasi pengumpulan data.
  • C. Snouck Hurgronje: Sangat terkenal mempelajari Islam dan Aceh. Ia mengumpulkan ribuan naskah agama dan hukum.
  • P. P. Roorda van Eysinga: Mengumpulkan banyak naskah Sunda dan Jawa.
  • Kits Nieuwenhuis: Menjelajahi Kalimantan dan membawa banyak naskah Dayak dan Banjar.
  • Matthes: Ahli naskah Bugis-Makassar yang sangat banyak mengumpulkan lontara.
  1. Jumlah dan Jenis yang Dibawa

Jumlahnya sangat masif, jauh lebih banyak daripada yang dibawa Inggris.

  • Di Perpustakaan Nasional Belanda (KB – Koninklijke Bibliotheek): Terdapat sekitar 10.000 – 12.000 judul koleksi manuskrip dari Nusantara.
  • Di Leiden University Library (KITLV): Ini adalah gudang terbesar. Terdapat lebih dari 4.000 manuskrip tulisan tangan, ditambah ribuan buku cetakan lama, foto, dan dokumen.
  • Museum Volkenkunde (Leiden) & Tropenmuseum (Amsterdam): Menyimpan naskah-naskah fisik dan benda budaya.

Jenis naskah yang dominan:

  • Sunda: Sangat banyak, termasuk naskah Carita Parahyangan, Sanghyang Siksakanda ng Karesian, serta berbagai naskah Wawacan dan Primbon.
  • Jawa: Babad, Serat Wulangreh, Ilmu Falak, Pengobatan (Jampi-Jampi).
  • Melayu: Hikayat, Syair, Undang-Undang Laut.
  • Bugis-Makassar: Lontara (sejarah), Pamali, Astrologi.
  • Batak & Aceh: Pustaha dan kitab-kitab agama.
  1. Nasib Naskah di Belanda

Awalnya, naskah-naskah ini dikirim ke Belanda agar “aman” dan “terawat”, namun lama-kelamaan menjadi milik institusi di sana.

  • Katalogisasi: Belanda sangat rapi mengkategorikan naskah-naskah ini. Mereka menerjemahkan judulnya ke bahasa Belanda/Inggris dan mendeskripsikan isinya.
  • Digitalisasi: Dalam 20 tahun terakhir, banyak dari naskah ini sudah di-scan resolusi tinggi. Proyek seperti Digital Collections Universitas Leiden memungkinkan kita melihat foto naskah asli dari internet, meskipun fisiknya tetap ada di sana.
  • Pengembalian: Jarang ada pengembalian fisik. Biasanya hanya diberikan salinan digital atau mikrofilm sebagai bentuk kerja sama budaya.

Perbedaan Utama Inggris vs Belanda

Aspek Inggris (Raffles) Belanda
Waktu Singkat (1811-1816), mendadak Berabad-abad (350 tahun), terencana
Cara Lebih banyak penjarahan perang Pembelian, penyitaan, penyalinan, administrasi
Jumlah Ribuan, tapi sebagian hilang/rusak Puluhan ribu koleksi, sangat terawat
Fokus Jawa dan Sulawesi (Bone) Seluruh Nusantara (Sunda, Jawa, Melayu, Bugis, Batak, dll)
Lokasi Sekarang British Library, London Leiden, Amsterdam, Den Haag

Kesimpulan:
Jika Inggris mengambil “3 kapal” dalam satu kejadian besar, maka Belanda mengambilnya secara bertahap setiap tahun selama 3 abad, sehingga totalnya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan kapal jika diakumulasikan. Kekayaan literasi Nusantara yang tersimpan di Belanda saat ini adalah yang terlengkap dan terorganisir di dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *