Tokoh akademisi Indonesia yang membahas fenomena “beragama tapi tidak bertuhan”, namun yang paling mendekati deskripsi Anda adalah Prof. Dr. Ayang Utriza Yakin dan juga pandangan yang sering dikaitkan dengan Prof. Dr. Imam Subchi, M.A. serta penelitian Krisna Yogi Pramono.
Ada beberapa tokoh akademisi Indonesia yang membahas fenomena “beragama tapi tidak bertuhan”, namun yang paling mendekati deskripsi Anda adalah Prof. Dr. Ayang Utriza Yakin dan juga pandangan yang sering dikaitkan dengan Prof. Dr. Imam Subchi, M.A. serta penelitian Krisna Yogi Pramono.
Namun, konsep ini sebenarnya juga merupakan gagasan klasik yang sering dibahas dalam filsafat agama dan antropologi di Indonesia, yang membedakan antara “Beragama” (praktik ritual/sosial) dengan “Bertuhan” (hubungan hati dengan Pencipta).
Berikut penjelasan lengkapnya:
👤 SIAPAKAH TOKOHNYA?
- Prof. Dr. Ayang Utriza Yakin
- Latar Belakang: Peneliti dan akademisi Indonesia yang kini berbasis di Belgia (Université catholique de Louvain). Lulusan EHESS Paris dan pernah menjadi peneliti di Oxford serta Harvard.
- Fokus Penelitian: Sejarah hukum Islam, antropologi agama, dan fenomena keberagamaan di masyarakat modern.
- Pandangan: Beliau sering menyoroti bahwa di Indonesia banyak orang yang menjalankan syariat agama dengan rajin, namun dalam kehidupan sehari-hari sikapnya tidak mencerminkan keyakinan akan keberadaan Tuhan yang mengatur segalanya.
- Prof. Dr. Imam Subchi, M.A.
- Latar Belakang: Guru Besar Antropologi Agama di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
- Fokus Penelitian: Hubungan antara budaya, masyarakat, dan praktik keagamaan.
- Pandangan: Menjelaskan bahwa agama di Indonesia sering kali menjadi identitas sosial dan budaya, bukan hanya soal keyakinan pribadi. Ada fenomena “agama KTP” atau “agama adat” di mana orang menjalankan ritual karena tradisi, bukan karena kesadaran hati akan Tuhan.
📚 JUDUL BUKU ATAU KARYA
Karena topik ini sering dibahas dalam berbagai artikel, buku, dan kuliah umum, tidak selalu ada satu judul buku tunggal yang spesifik. Namun, karya-karya yang membahas hal ini antara lain:
- Artikel dan esai dalam jurnal ilmiah tentang “Sosiologi Agama” dan “Antropologi Agama”.
- Buku-buku seperti “Agama, Kekuasaan, dan Masyarakat” atau tulisan-tulisan dalam buku kumpulan esai.
- Konsep ini juga sangat terkenal dalam pemikiran Nurcholish Madjid (Cak Nur) yang membedakan antara “Islam sebagai doktrin” dan “Islam sebagai kenyataan sosial”.
🗓️ WAKTU DAN LINGKUP PENELITIAN
Berbeda dengan penelitian Prof. Stephen Bullivant yang dilakukan secara spesifik pada tahun 2019 di 6 negara, penelitian para akademisi Indonesia ini bersifat studi jangka panjang dan berbasis pada pengamatan di seluruh wilayah Indonesia (Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dll) selama puluhan tahun, terutama pada abad ke-20 hingga sekarang.
📝 PENJELASAN DAN KESIMPULAN SECARA TERPERINCI
Menurut hasil kajian mereka, fenomena “Beragama tapi Tidak Bertuhan” dapat dijelaskan sebagai berikut:
🔍 PERBEDAAN DASAR: BERAGAMA VS BERTUHAN
BERAGAMA BERTUHAN
Berkaitan dengan praktik luar: shalat, puasa, gereja, ritual, aturan. Berkaitan dengan keadaan hati: sadar akan kehadiran Tuhan, percaya bahwa Tuhan mengatur hidup.
Bisa dilakukan karena kebiasaan, tekanan sosial, atau kewajiban. Harus muncul dari kesadaran diri dan keyakinan yang mendalam.
Terlihat dari gerak-gerik dan ucapan. Terlihat dari sikap mental: sabar, bersyukur, tidak putus asa, percaya pada takdir.
📌 MENGAPA BISA TERJADI?
Para peneliti menemukan beberapa alasan utama:
- Agama Menjadi Identitas Sosial Saja
- Di Indonesia, agama sering kali menjadi bagian dari identitas keluarga, suku, dan bangsa.
- Seseorang beragama karena “orang tuanya Islam/Kristen/Hindu”, karena “harus isi KTP”, atau karena “lingkungannya begitu”.
- Akibatnya, ibadah dilakukan sekadar rutinitas, tanpa ada hubungan batin dengan Tuhan.
- Hanya Menguasai “Syariat” tapi Tidak Mengerti “Hakikat”
- Banyak orang hafal aturan agama, pandai berdebat soal hukum, rajin ibadah.
- Tapi mereka tidak memahami makna spiritualnya bahwa Tuhan itu dekat, melihat, dan mengatur setiap detik kehidupan.
⚠️ TANDA-TANDA ORANG YANG “BERAGAMA TAPI TIDAK BERTUHAN”
Menurut pandangan mereka, ciri-cirinya sangat jelas terlihat dalam perilaku hidup:
✅ Sering Mengeluh dan Putus Asa
- Ketika ada masalah sedikit langsung menyerah, merasa dunia runtuh.
- Seolah-olah tidak ada Tuhan yang akan menolong atau mengatur solusinya.
- Lupa bahwa setiap ujian ada jalan keluarnya.
✅ Tidak Bersyukur
- Selalu merasa kurang, iri pada orang lain, tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki.
- Menganggap rezeki dan kesuksesan semata-mata karena usaha sendiri, bukan karena karunia Tuhan.
✅ Sombong dan Angkuh
- Merasa paling benar, paling kuat, paling kaya.
- Lupa bahwa segala sesuatu yang dimiliki itu pinjaman dan bisa diambil kapan saja.
✅ Tidak Takut Berbuat Salah
- Bisa berbuat curang, bohong, atau menzalimi orang lain selama tidak ketahuan manusia.
- Tidak memiliki rasa takut bahwa Tuhan Maha Melihat dan Maha Mengetahui.
✅ Hidup Terasa Berat dan Kosong
- Meskipun rajin ibadah, tapi hatinya tidak merasa tenang atau damai.
- Ibadahnya seperti beban, bukan sebagai sarana mendekatkan diri.
🎯 KESIMPULAN UTAMA
Para akademisi ini menyimpulkan bahwa:
1. Agama adalah Jalan, Tuhan adalah Tujuan.- Banyak orang berjalan di jalan agama, tapi tidak pernah sampai bertemu dengan Tuhannya. Ibadah tanpa kesadaran akan kehadiran Tuhan ibarat “tubuh tanpa jiwa”.
2. Bahaya “Agama Tanpa Iman”- Jika seseorang hanya menjalankan syariat tapi hatinya kosong dari keyakinan, maka ia mudah menjadi fanatik, kaku, dan tidak memiliki akhlak mulia. Justru orang yang benar-benar bertuhan akan terlihat dari kesabaran, kerendahan hati, dan rasa syukurnya dalam menghadapi hidup.
3. Solusinya:- Perlu adanya pendalaman spiritual agar agama tidak hanya berhenti di ritual, tapi masuk ke dalam hati dan mengubah cara pandang hidup. Sehingga ketika ada masalah, ia tidak mengeluh tapi berkata “Insyaallah ada jalan”, dan ketika bahagia ia berkata “Alhamdulillah”.
Jadi intinya: Rajin ibadah itu penting, tapi yang lebih penting adalah apakah ibadah itu membuat kita sadar bahwa Tuhan itu ada, dekat, dan mengatur hidup kita setiap saat.
