Sumpah Palapa berhasil menyatukan ratusan suku bangsa dan bahasa di Nusantara apakah relevan dengan hadis imam bukhari?
Redaksi Hadits (Riwayat Imam Bukhari)
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ، وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’in), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’ut tabi’in). Kemudian akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” (HR. Bukhari No. 2652 & 6429)
Penjelasan Makna
Mengenai kalimat yang Anda tanyakan: “persaksiannya melebihi sumpahnya dan sumpahnya melebihi persaksiannya”, para ulama (seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari) menjelaskan beberapa poin penting:
- Sikap Meremehkan Sumpah: Hal ini menggambarkan kondisi di mana orang-orang sudah tidak lagi menganggap suci sebuah sumpah atau persaksian. Mereka sangat mudah berucap “Demi Allah” atau bersaksi tanpa diminta dan tanpa kehati-hatian.
- Saling Mendahului: Makna “mendahului” di sini adalah saking cepat dan seringnya mereka bersumpah dan bersaksi, sehingga seolah-olah kedua hal itu berkejaran. Mereka bersaksi sebelum disumpah, atau bersumpah padahal tidak sedang diminta memberikan kesaksian.
- Hilangnya Keteguhan: Ini merupakan kritik terhadap degradasi moral setelah tiga generasi terbaik. Pada masa itu, kejujuran mulai luntur dan orang-orang lebih mementingkan urusan duniawi sehingga mudah mempermainkan nama Tuhan dalam urusan persaksian.
Kesimpulan Generasi
Berdasarkan hadits ini, klasifikasi generasi terbaik adalah:
- Generasi 1: Sahabat Nabi.
- Generasi 2: Tabi’in.
- Generasi 3: Tabi’ut Tabi’in.
Setelah itu, muncullah kaum yang digambarkan oleh Nabi memiliki sifat yang tidak lagi menjaga kehormatan sumpah dan persaksian tersebut.
Kalimat dalam hadits tersebut sebenarnya merupakan kritik atau celaan (dzamm) terhadap suatu kaum yang meremehkan urusan agama, bukan sebuah pujian terhadap pengakuan dunia atas sumpah mereka.
Dalam konteks hadits tersebut, “sumpah mendahului persaksian” diartikan oleh para ulama sebagai hilangnya sifat amanah dan rasa takut kepada Allah. Mereka bersumpah dan bersaksi dengan sangat mudah—bahkan sebelum diminta—hanya untuk meyakinkan orang lain demi keuntungan duniawi.
Namun, jika kita menarik benang merah ke dalam konteks sejarah dan fenomena yang diakui secara luas, ada beberapa penafsiran mengenai siapa kaum atau kondisi yang dimaksud:
1. Kaum yang Terfitnah oleh Harta dan Jabatan
Sebagian besar ulama hadits menjelaskan bahwa kaum ini adalah mereka yang hidup setelah masa Tabi’ut Tabi’in, di mana ekspansi wilayah Islam sudah sangat luas dan kemakmuran duniawi meningkat. Persaingan bisnis dan kedudukan membuat orang mudah menggunakan sumpah palsu agar kesaksiannya diterima di pengadilan atau pasar.
2. Golongan “Saksi Palsu” dalam Urusan Dunia
Secara harfiah, hadits ini merujuk pada orang-orang yang menjadikan sumpah sebagai alat diplomasi atau perdagangan. Jika Anda menanyakan kaum mana yang “sumpahnya diakui dunia”, secara sosiologis ini sering dikaitkan dengan:
- Para Pemimpin atau Diplomat yang Ingkar Janji: Mereka yang mahir bersilat lidah dengan sumpah jabatan namun tindakannya bertolak belakang (politik praktis).
- Pebisnis yang Tidak Jujur: Kaum yang sangat mengandalkan “sumpah atas nama Tuhan” agar dagangannya laku atau kontraknya ditandatangani, sehingga dunia (pasar) percaya pada mereka meski isinya tidak jujur.
3. Kaum yang Mengabaikan Syariat Sumpah
Dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa kaum yang dimaksud adalah kaum yang “mencintai kegemukan” (secara kiasan berarti kemewahan dan bermalas-malasan) serta bersaksi sebelum diminta. Di sini, sumpah mereka “diakui” oleh manusia karena frekuensinya yang sering, tetapi di sisi Allah, itu adalah kehinaan.
Catatan Penting: Perlu dibedakan antara Sumpah yang Benar (seperti sumpah para Sahabat yang membawa keadilan dunia) dengan Sumpah yang Mendahului Persaksian.
Jika yang Anda maksud adalah kaum yang memiliki wibawa besar sehingga kata-katanya diakui dunia, maka itu adalah Generasi Sahabat. Namun, dalam teks hadits yang Anda kutip, kaum tersebut justru sedang diperingatkan karena mereka meremehkan sumpah demi kepentingan duniawi.
Sumpah atau janji setia merupakan instrumen sosial dan politik yang sangat kuat sepanjang sejarah manusia. Di berbagai belahan dunia, sumpah-sumpah tertentu telah mengubah struktur pemerintahan, etika profesi, hingga batas-batas negara.
Berikut adalah beberapa sumpah yang paling berpengaruh di dunia:
1. Sumpah Hippokrates (Hippocratic Oath)
Ini adalah sumpah paling ikonik di dunia medis yang berasal dari Yunani Kuno (sekitar abad ke-5 SM).
Isi Utama: Menekankan etika medis, kerahasiaan pasien, dan prinsip utama: Primum non nocere (yang utama adalah tidak memperburuk keadaan atau tidak membahayakan).
Pengaruh: Menjadi standar moral universal bagi dokter di seluruh dunia. Sumpah ini memastikan bahwa praktik medis dipisahkan dari kepentingan pribadi atau politik, sehingga masyarakat memiliki kepercayaan tinggi terhadap institusi kesehatan.
2. Sumpah Pemuda (1928)
Khusus di konteks Indonesia, sumpah ini adalah salah satu tonggak sejarah paling vital dalam pergerakan kemerdekaan.
Isi Utama: Pengakuan atas satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan: Indonesia.
Pengaruh: Sumpah ini berhasil menyatukan ratusan suku bangsa dan bahasa di Nusantara yang sebelumnya berjuang secara kedaerahan. Tanpa komitmen kolektif ini, identitas nasional Indonesia mungkin tidak akan pernah terbentuk secara solid.
3. Sumpah Lapangan Tenis (Tennis Court Oath / 1789)
Terjadi pada awal Revolusi Prancis ketika anggota Third Estate (rakyat jelata) dikunci keluar dari ruang sidang oleh Raja Louis XVI.
Isi Utama: Mereka bersumpah tidak akan bubar sampai Prancis memiliki Konstitusi tertulis.
Pengaruh: Sumpah ini menandai berakhirnya absolutisme raja dan lahirnya kedaulatan rakyat. Peristiwa ini memicu runtuhnya monarki di Eropa dan penyebaran paham demokrasi ke seluruh dunia.
4. Sumpah Setia Konstitusi (Oath of Allegiance)
Hampir setiap negara demokrasi memiliki sumpah ini, baik untuk pejabat publik, militer, maupun warga negara baru (naturalisasi).
Isi Utama: Janji untuk setia kepada konstitusi atau negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
Pengaruh: Sumpah ini menjaga stabilitas negara. Di Amerika Serikat atau banyak negara republik lainnya, militer bersumpah setia kepada Konstitusi, bukan kepada Individu (Presiden). Hal ini mencegah terjadinya kediktatoran militer karena loyalitas prajurit ada pada hukum tertinggi negara.
5. Sumpah Palapa (Abad ke-14)
Diambil oleh Mahapatih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit.
Isi Utama: Gajah Mada bersumpah tidak akan memakan palapa (kenikmatan duniawi/istirahat) sebelum berhasil menyatukan Nusantara di bawah panji Majapahit.
Pengaruh: Sumpah ini memicu ekspansi politik dan budaya yang menyatukan wilayah luas di Asia Tenggara. Secara historis, semangat Sumpah Palapa sering digunakan sebagai inspirasi integrasi nasional di era modern.
Mengapa Sumpah-Sumpah Ini Begitu Berpengaruh?
Legitimasi Moral: Sumpah memberikan beban moral yang berat bagi pengucapnya. Melanggar sumpah sering kali dianggap sebagai pengkhianatan tertinggi.
Kontrak Sosial: Sumpah berfungsi sebagai janji terbuka antara pemimpin dan rakyatnya, atau antara anggota masyarakat, yang menciptakan rasa aman dan keteraturan.
Simbol Persatuan: Dalam kasus Sumpah Pemuda atau Sumpah Lapangan Tenis, sumpah berfungsi sebagai “lem” yang menyatukan kelompok-kelompok yang sebelumnya terpecah demi satu tujuan besar.
Hubungan dengan Hadits
Menarik untuk melihat perbedaannya:
- Sumpah seperti Palapa atau Sumpah Pemuda adalah sumpah yang bersifat Visi dan Komitmen. Sumpah ini diakui dunia karena integritas pelakunya yang membuktikan ucapan dengan tindakan nyata.
- Sumpah dalam Hadits Bukhari yang kita bahas sebelumnya merujuk pada sumpah yang digunakan untuk Persaksian/Hukum (Yamin). Hadits tersebut memperingatkan tentang kaum yang sumpahnya “murah”—mudah diucapkan untuk menipu atau sekadar meyakinkan orang lain tanpa ada rasa takut kepada Tuhan.
Jadi, dunia mengakui sumpah-sumpah besar karena adanya konsistensi antara ucapan dan bukti, sedangkan hadits tersebut justru mengkritik mereka yang sumpahnya hanya di lisan namun kosong dalam perbuatan (tidak amanah).
Dampak Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Mahapatih Gajah Mada pada tahun 1336 M merupakan salah satu peristiwa paling transformatif dalam sejarah Asia Tenggara. Sumpah ini bukan sekadar janji pribadi, melainkan sebuah doktrin politik yang mengubah wajah Nusantara.
Berikut adalah rincian mengenai dampak dan cakupan wilayahnya:
1. Dampak Besar Sumpah Palapa
Dampaknya dapat dilihat dari tiga perspektif utama:
Integrasi Geopolitik: Untuk pertama kalinya, wilayah-wilayah di kepulauan Nusantara memiliki satu pusat koordinasi (Trowulan, ibu kota Majapahit). Hal ini menciptakan stabilitas keamanan di jalur perdagangan laut.
Stabilitas Ekonomi: Dengan menyatunya pelabuhan-pelabuhan besar di Jawa, Sumatera, dan semenanjung Malaya, Majapahit mampu mengontrol perdagangan rempah-rempah dunia. Ini menjadikan Nusantara sebagai poros ekonomi penting antara Tiongkok dan India.
Fondasi Nasionalisme Modern: Sumpah Palapa menjadi inspirasi utama bagi para pendiri bangsa Indonesia (seperti Soekarno dan Mohammad Yamin). Konsep “Nusantara” yang digagas Gajah Mada menjadi cetak biru (blueprint) wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
2. Wilayah yang Disatukan dalam Sumpah Palapa
Berdasarkan teks dalam kitab Pararaton, Gajah Mada menyatakan tidak akan memakan palapa (rempah-rempah atau kenikmatan duniawi) sebelum berhasil menundukkan wilayah-wilayah berikut:
Nama Wilayah dalam Sumpah Identifikasi Lokasi Saat Ini
Gurun Lombok (Lombok Timur/Pulau Penida)
Seran Seram (Maluku)
Tanjung Pura Ketapang (Kalimantan Barat)
Haru Sumatera Utara (wilayah Karo/Deli)
Pahang Semenanjung Malaya (Malaysia)
Dompo Pulau Sumbawa (NTB)
Bali Pulau Bali
Sunda Jawa Barat (Kerajaan Pajajaran)
Palembang Sumatera Selatan
Tumasik Singapura
3. Jangkauan Kekuasaan (Nusantara II)
Menurut kitab Negarakertagama, wilayah pengaruh Majapahit meluas jauh melampaui daftar di atas, mencakup hampir seluruh wilayah Indonesia modern ditambah beberapa wilayah di Asia Tenggara:
Sumatera: Mencakup seluruh pesisir timur hingga Aceh.
Kalimantan: Hampir seluruh pesisir pulau Borneo.
Semenanjung Malaya: Hingga wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Thailand Selatan (Pattani).
Indonesia Timur: Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua (wilayah Wanin dan Pariaman).
Analisis Kritis
Penting untuk dicatat bahwa metode “penyatuan” Majapahit tidak selalu melalui penaklukan militer berdarah. Banyak wilayah yang bergabung melalui hubungan diplomatik, perkawinan, atau pengakuan kedaulatan demi perlindungan keamanan dan akses perdagangan.
Satu wilayah yang tercatat dalam sumpah namun sangat sulit ditundukkan adalah Sunda. Kegagalan diplomasi dengan Sunda akhirnya memicu Peristiwa Bubat, yang menjadi titik balik tragis dalam karier politik Gajah Mada sendiri.
Hubungan antara Sumpah Palapa dan wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sangat signifikan, baik secara historis, geografis, maupun ideologis. Para pendiri bangsa kita (Founding Fathers) tidak membangun Indonesia dari ruang hampa, melainkan mengambil inspirasi besar dari visi Gajah Mada.
Berikut adalah poin-poin hubungan signifikannya:
1. Blueprint Geografis NKRI
Sumpah Palapa adalah dokumen sejarah pertama yang secara eksplisit menyebutkan nama-nama wilayah di seluruh kepulauan (dari Tumasik/Singapura hingga Seram/Maluku) sebagai satu kesatuan politik.
Kesamaan Wilayah: Wilayah yang disebut dalam Sumpah Palapa dan Negarakertagama hampir identik dengan peta Indonesia saat ini.
Warisan Teritorial: Indonesia mengadopsi prinsip hukum internasional Uti Possidetis Juris (memasuki wilayah bekas kolonial Belanda). Namun, secara moral dan sejarah, batas-batas tersebut diperkuat oleh fakta bahwa wilayah tersebut pernah dipersatukan oleh Majapahit jauh sebelum kolonialisme datang.
2. Penggunaan Istilah “Nusantara”
Gajah Mada adalah tokoh yang mempopulerkan istilah Nusantara (Nusa = pulau, Antara = seberang/luar).
Sebelum kemerdekaan, istilah ini dihidupkan kembali oleh Ki Hajar Dewantara dan para aktivis pergerakan nasional sebagai nama alternatif bagi Hindia Belanda.
Nama ini dipilih karena memiliki akar sejarah yang kuat dan melambangkan kebanggaan akan peradaban asli pribumi yang mampu menyatukan wilayah seluas benua.
3. Sumber Legitimasi Nasionalisme
Pada masa perjuangan kemerdekaan, para tokoh seperti Mohammad Yamin dan Soekarno menggunakan Sumpah Palapa sebagai alat untuk:
Membangkitkan Rasa Percaya Diri: Membuktikan bahwa bangsa Indonesia bukan “bangsa tempe”, melainkan bangsa besar yang pernah memiliki kekaisaran maritim yang disegani di Asia.
Menangkal Politik Pecah Belah (Devide et Impera): Sumpah Palapa menunjukkan bahwa persatuan adalah kunci kekuatan. Gajah Mada membuktikan bahwa meski terdiri dari ribuan pulau dan suku, wilayah ini bisa stabil di bawah satu kepemimpinan.
4. Simbol Teknologi dan Komunikasi modern
Signifikansi Sumpah Palapa terhadap kedaulatan Indonesia bahkan terbawa hingga era modern. Satelit komunikasi pertama Indonesia dinamakan Satelit Palapa (diluncurkan tahun 1976).
Filosofinya: Jika dulu Gajah Mada menyatukan Nusantara dengan kekuatan politik dan armada laut, kini Indonesia menyatukan pulau-pulaunya melalui “Sumpah Palapa Digital” (sinyal satelit) agar komunikasi dan informasi merata dari Sabang sampai Merauke.
Perbedaan Perspektif yang Perlu Dipahami
Meskipun hubungannya sangat erat, terdapat perbedaan mendasar dalam sifat kedaulatannya:
Majapahit (Sumpah Palapa): Bersifat Monarki Impearial. Hubungan antara pusat dan daerah seringkali berupa upeti dan pengakuan kedaulatan (vassal), bukan kesetaraan warga negara.
Indonesia (NKRI): Bersifat Republik Demokratis. Persatuan didasarkan pada kesepakatan sosial dan hukum di mana setiap warga negara memiliki hak yang sama, tanpa ada sistem kasta politik antar daerah.
Kesimpulan: Tanpa adanya Sumpah Palapa, konsep “Indonesia” mungkin akan sulit terbentuk karena kita tidak akan memiliki referensi sejarah tentang sebuah wilayah besar yang bisa hidup rukun dalam satu payung kekuasaan. Sumpah Palapa adalah akar sejarah dari pohon yang bernama Indonesia.
Berdasarkan catatan sejarah dalam kitab Negarakertagama dan Pararaton, wilayah terakhir yang menjadi sasaran penyatuan atau yang menandai puncak perluasan kekuasaan Gajah Mada mencakup wilayah di ujung timur Nusantara dan upaya diplomasi yang gagal di wilayah barat (Sunda).
Berikut adalah rincian “wilayah-wilayah terakhir” dalam misi penyatuan Gajah Mada:
1. Wilayah Timur (Papua dan Sekitarnya)
Dalam upaya melengkapi visi Sumpah Palapa, armada Majapahit bergerak hingga ke wilayah paling timur. Wilayah-wilayah yang tercatat sebagai daerah terjauh yang dipersatukan di masa akhir kepemimpinan Gajah Mada adalah:
- Wanin: Diidentifikasi sebagai wilayah Onin di Fakfak, Papua Barat.
- Sran: Wilayah di sekitar Kaimana, Papua Barat.
- Pariaman: Wilayah di bagian barat Papua. Penaklukan atau pengakuan kedaulatan di wilayah ini menjadikan Majapahit sebagai kekaisaran dengan jangkauan geografis yang hampir mencakup seluruh peta Indonesia saat ini.
2. Wilayah Bali dan Dompo (Sumbawa)
Penaklukan Bali (1343 M) dan Dompo (1357 M) merupakan kampanye militer besar terakhir yang tercatat sebelum Gajah Mada mencapai puncak kejayaannya. Penaklukan Bali sangat signifikan karena Bali merupakan kerajaan yang kuat dan memiliki keterikatan budaya yang erat dengan Jawa, namun sempat menentang supremasi Majapahit.
3. Kerajaan Sunda (Kegagalan yang Menjadi Akhir)
Daerah terakhir yang “seharusnya” disatukan namun justru menjadi titik akhir karier Gajah Mada adalah Kerajaan Sunda (Jawa Barat).
- Peristiwa Bubat (1357 M): Gajah Mada ingin menyatukan Sunda bukan melalui perang, melainkan melalui pernikahan politik antara Raja Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka Citraresmi.
- Namun, karena Gajah Mada bersikeras menganggap pengantin wanita sebagai bentuk “upeti” (tanda tunduk), pecahlah pertempuran di Lapangan Bubat.
- Tragedi ini mengakibatkan gugurnya seluruh rombongan dari Sunda. Akibat peristiwa ini, hubungan diplomatik rusak, dan Gajah Mada akhirnya dinonaktifkan (istirahat) dari jabatannya sebagai Mahapatih.
Ringkasan Wilayah Penutup
Jika kita melihat dari segi Geografis, maka daerah terakhirnya adalah Papua (Wanin dan Sran). Namun jika kita melihat dari segi Kronologi Politik, maka daerah terakhir yang diupayakan (meski gagal secara diplomasi) adalah Sunda.
Daftar Penutup Wilayah dalam Sumpah Palapa:
- Pahang (Semenanjung Malaya)
- Tumasik (Singapura)
- Tanjung Pura (Kalimantan)
- Lombok & Dompo (NTB)
- Wanin (Papua Barat)
Setelah Gajah Mada wafat pada tahun 1364 M, tidak ada lagi sosok yang mampu memegang kendali sebesar itu, dan perlahan-lahan wilayah-wilayah di luar Jawa mulai melepaskan diri dari pengaruh Majapahit.
Kedua kitab ini adalah peninggalan sejarah yang sangat berharga dan saat ini disimpan dengan penjagaan ketat. Berikut adalah detail mengenai lokasi penyimpanan, bahasa, dan aksara yang digunakan:
1. Kitab Negarakertagama
Kitab ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi hingga diakui oleh UNESCO sebagai Memori Dunia (Memory of the World) pada tahun 2008.
- Lokasi Sekarang: Naskah aslinya (berupa lempengan lontar) disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), Jakarta. Sebelumnya, naskah ini sempat dibawa ke Belanda (Perpustakaan Universitas Leiden) setelah ditemukan di istana Cakranegara, Lombok pada tahun 1894, namun telah dikembalikan ke Indonesia pada tahun 1970-an.
- Bahasa: Menggunakan Bahasa Jawa Kuno.
- Aksara (Huruf): Menggunakan Aksara Bali (karena naskah yang ditemukan adalah salinan yang dipelihara di Bali dan Lombok). Penulisan aslinya berbentuk Kakawin atau puisi tradisional Jawa Kuno yang sangat terikat aturan metrum (irama).
2. Kitab Pararaton
Berbeda dengan Negarakertagama yang bersifat pujian resmi negara, Pararaton lebih bersifat sastra rakyat yang menceritakan sejarah raja-raja Singhasari dan Majapahit.
- Lokasi Sekarang: Beberapa salinan naskah Pararaton juga disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI). Selain itu, salinan lainnya terdapat di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.
- Bahasa: Menggunakan Bahasa Jawa Pertengahan. Bahasa ini setingkat lebih “modern” dibandingkan bahasa Jawa Kuno di Negarakertagama, namun tetap berbeda dengan bahasa Jawa yang digunakan sekarang.
- Aksara (Huruf): Menggunakan Aksara Jawa/Bali. Bentuk tulisannya berupa Gancaran (prosa/cerita bebas), bukan puisi seperti Negarakertagama.
Perbedaan Singkat
| Fitur | Kitab Negarakertagama | Kitab Pararaton |
| Penyimpanan Utama | Perpustakaan Nasional RI (Jakarta) | Perpustakaan Nasional RI & Leiden |
| Bahasa | Jawa Kuno | Jawa Pertengahan |
| Aksara | Aksara Bali (pada naskah temuan) | Aksara Jawa/Bali |
| Bentuk Sastra | Kakawin (Puisi/Syair) | Gancaran (Prosa) |
| Penulis | Empu Prapanca | Anonim (Tidak diketahui) |
Menariknya, meskipun kedua kitab ini ditemukan di luar Pulau Jawa (Bali dan Lombok), isinya justru menjadi kunci utama bagi kita untuk memahami sejarah besar kerajaan-kerajaan di tanah Jawa dan visi Nusantara
