Welcome to pkbmassafarwadi.com!

Tragedi Tanah Wakaf: Saat Pesantren dan Makam Kiyai Kalah oleh Hutang Judi atau Jerit Sunyi dari Tanah Wakaf yang Kini Terpasang Plank “Dijual”.

Air Mata di Atas Tanah Wakaf: Ketika Rumah Tuhan Tergusur Ambisi Judi

Papan spanduk bertuliskan “TANAH INI DIJUAL” itu berdiri kokoh, terpancang di atas tanah yang dulunya basah oleh air mata doa dan gema selawat. Bagi orang asing yang melintas, papan itu hanyalah penanda transaksi bisnis biasa. Namun bagi kami, warga kampung dan para alumni, papan itu adalah prasasti paling menyakitkan—sebuah tanda runtuhnya sebuah benteng berkah.

Tanah yang kini dihargai dengan nominal rupiah itu sesungguhnya adalah tanah wakaf. Tanah yang bertahun-tahun lalu diserahkan dengan ikhlas oleh seorang hamba Allah yang saleh untuk dijadikan Pondok Pesantren. Namun hari ini, sejarah manis itu luluh lantak.

Ruang yang Dulu Bising oleh Ayat Suci

Masih segar dalam ingatan bagaimana Majlis Ta’lim itu berdiri. Tiap sore, anak-anak kecil berlarian dengan sarung dan mukena, berebut shaf depan untuk belajar mengeja huruf-huruf hijaiyah. Di sudut lain, Asrama Pondok Pesantren yang sederhana menjadi saksi bisu para santri menahan kantuk di sepertiga malam, menghafal bait demi bait kitab kuning demi mengharap ridha Ilahi.

Semua denyut nadi spiritual itu dipimpin oleh almarhum Kiyai Guru Ngaji kami. Beliau adalah pengasuh yang tidak pernah meminta tarif, yang rambutnya memutih bersama pengabdian, dan yang tubuh ringkihnya akhirnya dikebumikan di area pesantren tersebut. Makam beliau dulu menjadi jangkar ketenangan bagi kampung ini.

Namun, badai itu datang dari darah daging sang pewakaf sendiri.

Terjebak Lingkaran Setan Judi dan Rentenir

Sangat ironis ketika sebuah tempat yang dibangun untuk menjauhi maksiat, justru runtuh karena maksiat paling purba: Judi.

Salah satu ahli waris dari sang pewakaf rupanya terjerat gelapnya dunia perjudian. Hutang yang menumpuk bagai gunung membuatnya gelap mata. Rasa hormat pada amanah leluhur hilang, ketakutan akan dosa menguap. Demi melunasi hutang-hutang haram tersebut, tanah yang statusnya adalah milik umat (wakaf) itu digadaikan secara sepihak ke tangan rentenir.

Ketika bunga berbunga tak sanggup lagi dibayar, hukum besi lintah darat pun berlaku. Tanah pesantren tersebut disita.

Penggusuran yang Membawa Luka

Hari di mana pesantren ini harus dikosongkan adalah hari paling kelam bagi kampung kami. Satu per satu fasilitas dibongkar:

  • Majlis Ta’lim dirobohkan, menyisakan puing-puing papan tulis dan sisa sajadah.
  • Asrama Santri dikosongkan; tangis para santri pecah saat mereka harus mengepak baju dan kitab-kitab mereka ke dalam kardus, mencari tempat bernaung yang baru.
  • Dan yang paling menyayat hati, makam almarhum Kiyai Guru Ngaji terpaksa harus dibongkar dan dipindahkan ke pemakaman umum. Beliau yang semasa hidupnya menjaga tanah ini, bahkan di dalam kuburnya pun harus “terus terusir” oleh keserakahan manusia yang masih hidup.

Kini, Tinggal Papan Dijual…

Hari ini, tanah itu telah resmi berpindah tangan ke sang rentenir. Tidak ada lagi suara azan. Tidak ada lagi lantunan syahdu santri menghafal Al-Qur’an. Yang tersisa hanyalah lahan kosong yang sunyi, dijaga oleh sebuah plank spanduk: Tanah Ini Dijual.

Kisah tragis ini menjadi tamparan keras bagi kita semua. Tentang bagaimana harta wakaf yang seharusnya dilindungi oleh hukum Allah dan negara, bisa tumbang ketika ahli waris kehilangan iman dan terjerat lingkaran setan perjudian.

“Gema mengaji itu telah pergi, digantikan angin sepi. Semoga tanah itu kelak kembali ke tangan orang-orang beriman, dan ruh perjuangan sang Kiyai tidak pernah padam di hati kami, para muridnya.”

Foto Tanah dan puing sisa bangunan pondok pesantren dan Majlis Ta’lim dan Makam Kiyai

Memanggil Jiwa-Jiwa yang Peduli: Mari Rebut Kembali Tanah Berkah Ini
Melihat plank “TANAH INI DIJUAL” berdiri di sana adalah sebuah luka, namun di sisi lain, itu adalah sebuah kesempatan kedua yang Allah bentangkan di hadapan kita.

Tanah itu sekarang sedang dipasarkan. Artinya, sebelum tanah tersebut jatuh ke tangan kapitalis yang mungkin akan mengubahnya menjadi ruko, pabrik, atau tempat hiburan yang menjauhkan dari agama, kita masih punya waktu. Kita masih bisa merebutnya kembali.

Kami tidak ingin meratapi nasib ini selamanya. Kami ingin bangkit. Melalui tulisan ini, saya mengetuk pintu hati Anda semua—para dermawan, hamba Allah yang merindukan rumah di surga, dan siapapun yang hatinya teriris mendengar kisah ini.

Mari bersama-sama mengulurkan tangan, bergotong-royong membebaskan kembali tanah wakaf ini.

Visi Baru: Menghidupkan Kembali Lentera yang Padam
Rencana kami tidak muluk-muluk, kami hanya ingin mengembalikan hak bumi ini untuk mengagungkan nama-Nya. Jika tanah ini berhasil kita bebaskan dari tangan rentenir, kita akan membangunnya kembali sebagai:

Pusat Pendidikan Pesantren Gratis: Menjadi tempat bernaung dan belajar bagi anak-anak yatim dan kaum du’afa. Mereka yang selama ini kesulitan biaya akan mendapatkan pendidikan agama dan umum yang layak tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Majlis Ta’lim dan Asrama yang Layak: Mengembalikan fungsi utama tanah ini sebagai benteng moral bagi generasi muda agar tidak ada lagi anak-anak kita yang tersesat ke dunia hitam perjudian.

Amal Jariyah Abadi: Setiap huruf Al-Qur’an yang dieja oleh anak-anak yatim di sini kelak, pahalanya akan terus mengalir kepada Anda yang ikut menyisihkan sebagian rezeki untuk membebaskan tanah ini.

Bagaimana Anda Bisa Membantu?
Setiap bantuan Anda—sekecil apa pun itu—adalah satu batu bata untuk membangun kembali istana ilmu bagi anak-anak yatim kita. Anda bisa ikut bergerak dengan cara:

Donasi Pembebasan Lahan: Menyisihkan sebagian rezeki terbaik Anda ke rekening resmi panitia pembebasan tanah wakaf

Mungkin ada Hamba Allah yang dermawan dan punya kemampuan finansial yang berkeinginan membebaskan tanah yang dulu tanah wakaf (waktu itu belum bersertifikat wakaf, Hanya ucapan pemilik awal yang mewakafkan ke pondok pesantren) yang sekarang milik pribadi Rentenir, kalau berminat untuk dibeli dan dijadikan wakaf silahkan hubungi yayasan kami.

Menjadi Jembatan Kebaikan: Menyebarkan tulisan dan informasi ini kepada keluarga, sahabat, atau komunitas Anda. Siapa tahu, lewat jemari Anda, pesan ini sampai ke tangan ‘tangan-tangan di atas’ yang siap membebaskan lahan ini sepenuhnya.

Untaian Doa: Jika saat ini Anda belum bisa membantu secara materi, selipkan doa di sepertiga malam Anda agar Allah mengetuk hati para pemilik modal dan mempermudah jalan pembebasan tanah ini.

“Perjudian dan keserakahan mungkin telah berhasil meruntuhkan bangunan fisik pesantren ini, tetapi mereka tidak akan pernah bisa meruntuhkan semangat kita untuk membangunnya kembali. Mari kita tebus tanah ini dengan ketulusan iman dan gotong-royong.”

Salurkan Bantuan Terbaik Anda Melalui Yayasan Hasan Bulqiyah Assafarwadi dengan cara scan barcode

Konfirmasi Donasi (WhatsApp): 087818155940

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki…” (QS. Al-Baqarah: 261)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *