Para ulama seperti Imam Nawawi dan Al-Mubarakfuri memberikan catatan penting mengenai diksi “Merah” dan “Putih” dalam hadis ini apakah merujuk juga Indonesia
Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“إِنَّ اللهَ زَوَى لِي الأَرْضَ، فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا، وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا، وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الأَحْمَرَ وَالأَبْيَضَ…”
Terjemahan:
“Sesungguhnya Allah mengecilkan bumi untukku, lalu aku melihat bagian timur dan baratnya. Dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai apa yang telah diperlihatkan kepadaku. Dan aku dianugerahi dua perbendaharaan (harta simpanan): Yang Merah (Emas/Romawi) dan Yang Putih (Perak/Persia)…“
2. Sanad dan Takhrij
Hadis ini memiliki derajat Shahih dan diriwayatkan oleh imam-imam besar hadis:
- Riwayat Utama: HR. Muslim (No. 2889).
- Riwayat Lain: Abu Dawud (No. 4252), At-Tirmidzi (No. 2176), Ibnu Majah (No. 3952), dan Ahmad (No. 22393).
- Jalur Sanad: Secara umum melalui jalur Ayyub as-Sakhtiyani dari Abu Qilabah dari Abu Asma’ ar-Rahabi dari Tsauban (mantan budak Rasulullah ﷺ).
3. Penjelasan (Syarah) Berdasarkan Ilmu Hadis
Para ulama seperti Imam Nawawi dan Al-Mubarakfuri memberikan catatan penting mengenai diksi “Merah” dan “Putih” dalam hadis ini:
- Al-Kanz al-Ahmar (Perbendaharaan Merah): Merujuk kepada Kerajaan Romawi (Byzantium). Bangsa Arab menyebut orang Romawi sebagai Banu al-Asfar (anak turun si kuning/merah) dan kekayaan utama mereka adalah emas.
- Al-Kanz al-Abyad (Perbendaharaan Putih): Merujuk kepada Kerajaan Persia (Sasanian). Pakaian kebesaran Raja Persia (Kisra) dan istana-istananya didominasi warna putih, serta kekayaan utama mereka adalah perak.
Poin-Poin Penting Penjelasan:
- Mukjizat Nubuatan: Hadis ini adalah bukti kenabian. Saat hadis ini diucapkan, umat Islam masih dalam kondisi lemah di Madinah. Namun, beberapa dekade kemudian (masa Khulafaur Rasyidin), wilayah Romawi dan Persia benar-benar jatuh ke tangan umat Islam.
- Zawa li al-Ardha: Makna “Allah mengecilkan bumi” adalah Allah melipat jarak sehingga Rasulullah ﷺ bisa melihat peta kekuasaan Islam masa depan secara fisik melalui penglihatan batin (mukjizat).
- Keadilan Ekonomi: Diberikannya “dua harta” ini juga mengisyaratkan bahwa Islam akan menjadi pusat ekonomi dunia setelah runtuhnya hegemoni dua imperium besar tersebut.
Mengaitkan hadis tentang “Perbendaharaan Merah dan Putih” dengan Indonesia (yang memiliki bendera Merah-Putih) merupakan sebuah pembacaan kontekstual yang menarik, terutama dalam bingkai optimisme kebangkitan Islam di Nusantara.
Berikut adalah draf artikel yang mengupas potensi Indonesia sebagai titik tolak kebangkitan Islam, menghubungkan isyarat nubuatan dengan realitas geopolitik masa kini.
Indonesia: Menjemput Nubuatan “Merah dan Putih”?
Analisis Strategis Kebangkitan Islam Nusantara
Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah ﷺ bersabda tentang masa depan umatnya: “…dan aku dianugerahi dua perbendaharaan: yang Merah dan yang Putih.” Secara historis, para ulama menafsirkan ini sebagai simbol emas Romawi dan perak Persia. Namun, dalam kacamata kontemporer, simbolisme “Merah dan Putih” secara visual melekat erat pada identitas bangsa Indonesia—negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.
1. Pergeseran Episentrum Dunia Islam
Sejarah mencatat bahwa kejayaan Islam berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain; dari Madinah ke Damaskus, Bagdad, hingga Istanbul. Saat ini, ketika Timur Tengah mengalami dinamika geopolitik yang pelik, mata dunia mulai tertuju ke Timur Jauh, khususnya Indonesia.
Indonesia bukan hanya menang secara kuantitas (demografi), tetapi juga memiliki model keberagaman yang khas. Islam di Indonesia membuktikan bahwa nilai-nilai tauhid dapat berjalan selaras dengan kemajemukan budaya dan stabilitas politik.
2. Kekayaan Alam sebagai “Perbendaharaan”
Jika “Merah” dan “Putih” dalam hadis merujuk pada kekayaan simpanan (al-kanz), Indonesia adalah gudangnya.
Merah (Emas): Indonesia memiliki cadangan emas yang melimpah (seperti Grasberg).
Putih (Perak/Nikel/Kekayaan Maritim): Indonesia adalah produsen nikel terbesar dunia dan memiliki kekayaan laut yang tak terbatas.
Kedaulatan ekonomi atas sumber daya alam ini merupakan syarat mutlak bagi kebangkitan sebuah peradaban. Jika potensi ini dikelola dengan amanah, Indonesia memiliki fondasi finansial untuk memimpin dunia Islam.
3. Pendidikan dan Moderasi: “Brain-Based Learning” Nusantara
Kebangkitan Islam tidak akan lahir dari pedang, melainkan dari pemikiran. Saat ini, geliat pendidikan Islam di Indonesia—mulai dari pesantren tradisional hingga metode modern seperti School of Nature dan Brain-Based Learning—sedang membentuk generasi baru yang cerdas secara intelektual dan kokoh secara spiritual.
Generasi ini adalah “Perbendaharaan Putih” (kesucian ilmu) dan “Perbendaharaan Merah” (keberanian berjuang) yang akan membawa risalah Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ‘Alamin).
Analisis Ilmu Hadis & Sejarah:
Meskipun secara tekstual (manthuq) hadis tersebut merujuk pada Romawi dan Persia, secara isyarat (isyarah), banyak ulama berpendapat bahwa janji Allah tentang kekuasaan umat Islam yang mencapai “ujung Barat dan ujung Timur” mencakup seluruh wilayah yang belum terjamah di masa Nabi, termasuk kepulauan Nusantara di ujung Timur.
Kesimpulan: Harapan dari Timur
Jika benar bahwa “Merah” dan “Putih” yang dimaksud adalah identitas yang kini kita sandang, maka ini bukan sekadar kebetulan sejarah, melainkan amanah besar. Kebangkitan Islam dari Indonesia akan ditandai dengan:
Kemandirian Ekonomi yang berbasis pada kekayaan alam sendiri.
Kepemimpinan Intelektual yang mampu menjawab tantangan zaman.
Persatuan Umat yang melampaui sekat-sekat mazhab dan suku.
Indonesia bukan lagi sekadar pelengkap dalam peta dunia Islam, melainkan mercusuar yang sedang dipersiapkan untuk memimpin peradaban di masa depan.
