Welcome to pkbmassafarwadi.com!

Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’in), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’ut tabi’in). Kemudian akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ، وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’in), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’ut tabi’in). Kemudian akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya.(HR. Bukhari No. 2652 & 6429)

Penjelasan Makna

Mengenai kalimat yang Anda tanyakan: “persaksiannya melebihi sumpahnya dan sumpahnya melebihi persaksiannya”, para ulama (seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari) menjelaskan beberapa poin penting:

  1. Sikap Meremehkan Sumpah: Hal ini menggambarkan kondisi di mana orang-orang sudah tidak lagi menganggap suci sebuah sumpah atau persaksian. Mereka sangat mudah berucap “Demi Allah” atau bersaksi tanpa diminta dan tanpa kehati-hatian.
  2. Saling Mendahului: Makna “mendahului” di sini adalah saking cepat dan seringnya mereka bersumpah dan bersaksi, sehingga seolah-olah kedua hal itu berkejaran. Mereka bersaksi sebelum disumpah, atau bersumpah padahal tidak sedang diminta memberikan kesaksian.
  3. Hilangnya Keteguhan: Ini merupakan kritik terhadap degradasi moral setelah tiga generasi terbaik. Pada masa itu, kejujuran mulai luntur dan orang-orang lebih mementingkan urusan duniawi sehingga mudah mempermainkan nama Tuhan dalam urusan persaksian.

Kesimpulan Generasi

Berdasarkan hadits ini, klasifikasi generasi terbaik adalah:

  • Generasi 1: Sahabat Nabi.
  • Generasi 2: Tabi’in.
  • Generasi 3: Tabi’ut Tabi’in.

Setelah itu, muncullah kaum yang digambarkan oleh Nabi memiliki sifat yang tidak lagi menjaga kehormatan sumpah dan persaksian tersebut.

Kalimat dalam hadits tersebut sebenarnya merupakan kritik atau celaan (dzamm) terhadap suatu kaum yang meremehkan urusan agama, bukan sebuah pujian terhadap pengakuan dunia atas sumpah mereka.

Dalam konteks hadits tersebut, “sumpah mendahului persaksian” diartikan oleh para ulama sebagai hilangnya sifat amanah dan rasa takut kepada Allah. Mereka bersumpah dan bersaksi dengan sangat mudah—bahkan sebelum diminta—hanya untuk meyakinkan orang lain demi keuntungan duniawi.

Namun, jika kita menarik benang merah ke dalam konteks sejarah dan fenomena yang diakui secara luas, ada beberapa penafsiran mengenai siapa kaum atau kondisi yang dimaksud:

1. Kaum yang Terfitnah oleh Harta dan Jabatan

Sebagian besar ulama hadits menjelaskan bahwa kaum ini adalah mereka yang hidup setelah masa Tabi’ut Tabi’in, di mana ekspansi wilayah Islam sudah sangat luas dan kemakmuran duniawi meningkat. Persaingan bisnis dan kedudukan membuat orang mudah menggunakan sumpah palsu agar kesaksiannya diterima di pengadilan atau pasar.

2. Golongan “Saksi Palsu” dalam Urusan Dunia

Secara harfiah, hadits ini merujuk pada orang-orang yang menjadikan sumpah sebagai alat diplomasi atau perdagangan. Jika Anda menanyakan kaum mana yang “sumpahnya diakui dunia”, secara sosiologis ini sering dikaitkan dengan:

  • Para Pemimpin atau Diplomat yang Ingkar Janji: Mereka yang mahir bersilat lidah dengan sumpah jabatan namun tindakannya bertolak belakang (politik praktis).
  • Pebisnis yang Tidak Jujur: Kaum yang sangat mengandalkan “sumpah atas nama Tuhan” agar dagangannya laku atau kontraknya ditandatangani, sehingga dunia (pasar) percaya pada mereka meski isinya tidak jujur.

3. Kaum yang Mengabaikan Syariat Sumpah

Dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa kaum yang dimaksud adalah kaum yang “mencintai kegemukan” (secara kiasan berarti kemewahan dan bermalas-malasan) serta bersaksi sebelum diminta. Di sini, sumpah mereka “diakui” oleh manusia karena frekuensinya yang sering, tetapi di sisi Allah, itu adalah kehinaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *