Sejarah yang hilang dengan cara Pengambilan manuskrip dan buku buku Nusantara oleh Inggris
Pengambilan manuskrip dan buku buku Nusantara oleh Inggris
Fakta sejarah yang pasti adalah Inggris memang membawa sejumlah besar manuskrip dan dokumen kuno dari Nusantara, terutama pada masa pemerintahan Thomas Stamford Raffles (1811-1816). Berikut penjelasannya secara rinci:

Latar Belakang Peristiwa
Pada tahun 1811, Inggris berhasil merebut wilayah Hindia Belanda dari tangan Belanda yang saat itu berada di bawah pengaruh Prancis, melalui Perjanjian Tuntang. Raffles kemudian ditunjuk sebagai Letnan Gubernur Jenderal di Jawa.
Hubungan antara Inggris dengan Keraton Yogyakarta memburuk karena perbedaan pandangan politik dan sikap yang dianggap kurang hormat oleh pihak keraton. Akibatnya, pada 20 Juni 1812, pasukan Inggris di bawah komando Laksamana Gillespie menyerbu dan menduduki Keraton Yogyakarta.
Dalam peristiwa ini, banyak harta benda, termasuk koleksi perpustakaan keraton yang berisi ribuan manuskrip, diambil dan dibawa ke Inggris. Selain Yogyakarta, Inggris juga mengambil manuskrip dari wilayah lain seperti Kerajaan Bone di Sulawesi Selatan pada tahun 1814.
Jumlah Manuskrip yang Dibawa
Tidak ada catatan pasti mengenai jumlah total manuskrip yang dibawa, namun para sejarawan dan peneliti memberikan perkiraan sebagai berikut:
- Diperkirakan sekitar 7.000 manuskrip dibawa dari berbagai wilayah Nusantara, tidak hanya dari Yogyakarta.
- Dari jumlah tersebut, sekitar 600 naskah kuno yang masih tersimpan dan terawat dengan baik di Inggris hingga saat ini.
- Khusus dari Keraton Yogyakarta, terdapat sekitar 75 manuskrip yang kini disimpan di British Library.
- Selain di British Library, manuskrip-manuskrip ini juga tersebar di institusi lain seperti Bodleian Library (Oxford), Royal Asiatic Society, dan SOAS University of London.
Cara Pengangkutan
Meskipun tidak tercatat berapa kapal yang digunakan, proses pengangkutan dilakukan secara bertahap dan besar-besaran. Menurut catatan sejarah:
- Selama kurang lebih dua minggu, setiap hari satu gerobak penuh barang berharga, termasuk manuskrip, diangkut dari keraton menuju pelabuhan untuk dikirim ke Inggris.
- Mengingat jumlahnya yang ribuan dan ukuran manuskrip yang umumnya tebal serta menggunakan kertas tebal atau daun lontar, sangat mungkin membutuhkan beberapa kapal untuk mengangkutnya. Namun, angka “3 kapal” belum bisa dibuktikan secara ilmiah.
Isi dan Jenis Manuskrip
Manuskrip yang dibawa Inggris memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, berisi berbagai topik seperti:
- Sejarah (babad, tarikh)
- Sastra (puisi, cerita rakyat)
- Hukum dan adat istiadat
- Agama dan filsafat
- Ilmu pengetahuan (kedokteran, astronomi, pertanian)
- Tata cara kehidupan kerajaan dan masyarakat
Nasib Manuskrip Sekarang
Sebagian besar manuskrip tersebut masih disimpan di Inggris hingga kini. Namun, dalam beberapa tahun terakhir telah dilakukan upaya kerja sama untuk mendigitalkan naskah-naskah tersebut agar dapat diakses oleh masyarakat Indonesia tanpa harus datang ke Inggris.
Pada tahun 2019, British Library telah menyelesaikan digitalisasi 75 manuskrip dari Yogyakarta dan menyerahkan salinan digitalnya kepada pihak keraton. Selain itu, 34 manuskrip dari Kerajaan Bone juga telah didigitalkan dan dapat diakses secara online.
Kesimpulan
Jadi, meskipun cerita tentang “3 kapal besar” menarik, fakta sejarahnya adalah Inggris memang membawa ribuan manuskrip Nusantara, namun jumlah kapal yang digunakan tidak tercatat secara pasti. Yang jelas, peristiwa ini merupakan salah satu bagian penting dalam sejarah hilangnya kekayaan budaya Nusantara yang kini tersimpan di luar negeri.
